HAMUKTI PALAPA PDF

Payung Kiai Udan Riwis merupakan payung bertingkat yang digunakan untuk mewisuda Raja sejak jaman Singosari. Sedangkan Cihna merupakan lambang negara Majapahit yang pertama dibuat atas perintah Raden Wijaya, Cihna tersebut memiliki motif batik dengan buah maja yang bersinar ditengahnya. Senopati Gajah Enggon yang merupakan pimpinan pasukan Bhayangkara, menjadi orang yang paling bertanggungjawab terhadap hilangnya kedua pusaka tersebut. Dengan kesadaran tinggi, dia pun mengundurkan diri dari jabatan pimpinan pasukan Bhayangkara agar dapat fokus untuk mencari kedua pusaka kerajaan yang telah hilang. Ditemani oleh sahabatnya yang mantan Bhayangkara Pradabashu, perjalanan keduanya menjadi petuanganan menarik dalam novel ini. Ditempat yang lain, salah satu wilayah bawahan Majapahit yaitu Keta dan Sadeng justru sedang mempersiapkan pasukan yang besar untuk melakukan makar.

Author:Julkis Zololkree
Country:Egypt
Language:English (Spanish)
Genre:History
Published (Last):24 August 2015
Pages:309
PDF File Size:4.61 Mb
ePub File Size:9.6 Mb
ISBN:792-7-74239-626-2
Downloads:28414
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:JoJoshicage



Tatang M. Karena Perang Bubat masih jadi kontroversi. Seperti ditulis lain oleh Aan Merdeka Permana, yang orang Sunda, kendati novel fiksi. Bukan Gadjah Mada yang bersalah, katanya! Ada apa gerangan dengan sumpah Palapa sehingga judul tulisan ini saya tulis seperti itu?

Nah, mari simak isi Sumpah Palapa itu dari beberapa tulisan karena tulisan dan terjemahannya ada macam-macam , sekaligus beberapa bahasan tentangnya. Lihat, ada yang menarik untuk disimak dengan jernih.

Jadi, palapa itu artinya bumbu dapur. Jadi, makan nasi tanpa bumbu-bumbuan. Tembung amukti palapa dening Mr. Yamin ditegesi ngaso utawa istirahat pensiun? Manut bausastra W. Enggon-enggonan mau sajake kalebu Tulungagung.

Tegese bango mau kanggo wong dodolan plapah. Kamangka nyatane los mau kanggo wong dodolan bumbu olah-olahan. Dadi sasuwene Nusantara durung manunggal karo Majapahit, Gajah Mada ora dhahar dhaharan sing dibumboni. Ing bebrayan Jawa tirakat utawa riyalat kaya ngono kuwi jenenge pasa mutih.

Yaiku mung dhahar sega putih, ora nganggo lawuh sing dibumboni. Nalika kelakon Nusantara wis nyawiji karo Majapahit, Gajah Mada mesthine ya leren anggone pasa mutih. Gambar itu gambar apa juga tidak jelas. Dari isi naskah ini dapat diketahui bahwa pada masa diangkatnya Gajah Mada, sebagian wilayah Nusantara yang disebutkan pada sumpahnya belum dikuasai Majapahit.

Bahasan khasnya ada di bawah, sudah diperbaiki ejaannya, dan dalam bahasan tesebut hal yang penting Pengutip cetak tebal. Apakah anda berfikir tentang sumpah untuk mempersatukan atau sumpah untuk menaklukan? Apakah itu sumpah pemersatu atau sumpah penjajah? Kita selalu diajarkan bahwa Sumpah Palapa adalah sebuah sumpah lambang pemersatu, tapi pernahkah kita berfikir bahwa sumpah itu adalah sumpah ketamakan untuk menguasai negara baca : kerajaan lain untuk berada di bawah kekuasaan Majapahit?

Semua tafsir itu saya serahkan kepada anda. Dan akibat tidak langsung dari sumpah ini adalah tidak adanya nama jalan atau tempat bertuliskan Gadjah Mada atau Hayam Wuruk [di Jawa Barat—Pengutip]. Menarik, kan. Paparannya, redaksional, maaf agak kacau balau karena logika berpikirnya juga sekali lagi, maaf agak amburadul. Akan tetapi isinya tetap harus dihargai, sebagai sebuah opini. Memaknai Sumpah Palapa Gajah Mada October 11, Serat Pararaton yang memuat naskah Sumpah Palapa sebenarnya tak secara eksplisit menyebutkan teks itu sebagai sebuah sumpah, dan tak ada satu pun kata dalam serat tersebut yang mencantumkan kata sumpah di dalamnya.

Maka jelaslah sekarang jika teks dalam Serat Pararaton itu bisa dikategorikan sebagai sebuah sumpah karena [sesuai dengan] ketiga pengertian [sumpah] tersebut di atas, baik secara sendiri-sendiri maupun secara keseluruhan [dapat dipakai dalam konteks pengertian sumpah]. Sebuah ungkapan, apalagi sebuah sumpah, kalau dikaji benar-benar menawarkan bentuk, isi, nilai, ideologi, dan enerji. Dari sisi bentuk Sumpah Palapa adalah prosa. Pada tahun itu pula Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa] dengan disaksikan oleh para menteri dan pejabat-pejabat lainnya, yang substansinya Gajah Mada baru mau melepaskan menghentikan puasanya apabila telah terkuasai Nusantara.

Sayangnya tidak diterangkan di dalam teks tersebut tentang jenis puasa dan berapa lama pelaksanaan puasanya itu keterangan tentang terjemahan amukti palapa, lihat Budya Pradipta, Dari sisi nilai Sumpah Palapa mengandung pelbagai nilai : nilai kesatuan dan persatuan wilayah Nusantara, nilai historis, nilai keberanian, nilai percaya diri, nilai rasa memiliki kerajaan Majapahit yang besar dan berwibawa, nilai geopolitik, nilai sosial budaya, nilai filsafat, dsb.

Sumpah Palapa memiliki ideologi kebineka tunggal ikaan, artinya menuju pada ketunggalan keyakinan, ketunggalan ide, ketunggalan senasib dan sepenanggungan, dan ketunggalan ideologi, akan tetapi tetap diberi ruang gerak kemerdekaan budaya bagi wilayah-wilayah negeri se Nusantara dalam mengembangkan kebahagiaan dan kesejahteraannya masing-masing. Sumpah Palapa akan menjadi sangat menarik lagi apabila dikaji dengan pendekatan komunikasi.

Pertanyaan-pertanyaan seperti : Kepada siapa Sumpah Palapa diucapkan, dalam lingkungan apa situasi, kondisi, iklim, dan suasana Sumpah Palapa dicanangkan, dengan sasaran apa dan siapa Sumpah Palapa dideklarasikan, mengapa atau apa perlunya Gajah Mada mengumumkan Sumpah Palapa, dan manfaat apa yang mau dicapai adalah pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab secara seksama.

Betapapun Sumpah Gajah Mada itu kontekstual [? Tidak semua pertanyaan-pertanyaan tersebut akan di jawab di sini, namun pertanyaan manfaat apa yang mau dicapai, kiranya perlu dijawab sekarang dengan lebih cermat. Menurut pemahaman saya Gajah Mada mempunyai kesadaran penuh tentang kenegaraan dan batas-batas wilayah kerajaan Majapahit, mengingat Nusantara berada sebagai negara kepulauan yang diapit oleh dua samudra besar yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, di samping diapit-apit oleh lautan Cina Selatan dan Lautan Indonesia Segoro Kidul [Nanti ada pemaknaan lain—Pengtp].

Dari kesadaran yang tinggi terhadap keberadaan Nusantara, Gajah Mada meletakkan dasar-dasar negara yang kokoh, sebagaimana terungkap dalam perundang-undangan Majapahit Slamet Mulyana, : 56 — 70; : — Uraian singkat tersebut dimaksudkan untuk memberi gambaran bahwa kerajaan Majapahit khususnya ketika berada dalam peng[kek]uasaan Gajah Mada telah berorientasi jauh ke depan, kalau istilah sekarang mempersiapkan diri sebagai negara yang modern, kuat, dan tangguh.

Oleh sebab itu tidak berlebihan, apabila dikatakan bahwa Sumpah Palapa itu sakral. Terakhir sebelum nanti ada tulisan lain yang layak dinukil , ini bahasan Baban Sarbana. Ada yang sengaja disalin cetak miring, karena rasanya logikanya agak membingungkan. Indonesia tidak bisa lepas dari sejarah kejayaan kerajaan-kerajaan—mulai dari Sriwijaya, Majapahit, Kutai, Pajajaran, dan kerajaan lainnya. Buktinya nama-nama kerajaan tersebut menjadi nama yang sampai saat ini menjadi nama-nama yang melegenda dan biasanya mewakili kebesaran sejarahnya itu sendiri.

Palembang dikenal dengan bumi Sriwijaya, Sunda dikenal dengan nama bumi Pajajaran atau bumi Parahyangan. Apa yang istimewa dengan kerajaan tersebut? Selain sebagai pusat kekuasaan dan pusat ilmu, kerajaan-kerajaan tersebut juga mewariskan spirit. Anda pasti tidak lupa dengan siapa itu Mahapatih Gajahmada yang popularitasnya bisa jadi lebih besar dari rajanya sendiri—Hayam Wuruk.

Bukan karena posisinya, tapi lebih karena statemennya yang kemudian diwujudkan dengan kekuatan. Statemen yang sangat terkenal hingga saat ini adalah Sumpah Palapa; sumpah yang ditekadkan untuk mempersatukan nusantara. Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Hasilnya, jika menapaktilasi jejak Sumpah Palapa, maka Indonesia saat ini adalah sebagian dari nusantara yang dicita-citakan dalam Sumpah Palapa [Cetak tebal dari pengutip].

Tahun , sekumpulan pemuda dari berbagai daerah, suku, berkumpul, menyatukan tekad bersatu untuk Indonesia. Semangat ke-Indonesia-an menyeruak dalam sanubari anak muda yang jika dikonversi [?

Para pemuda juga menghasilkan hal yang sama, yaitu Sumpah Pemuda: satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa. Kami poetera dan poeteri indonesia mengakoe bertoempah-darah jang satoe, tanah indonesia. Kami poetera dan poeteri indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa indonesia.

Kami poetera dan poeteri indonesia mendjoendjoeng bahasa persatuan, bahasa indonesia. Sumpah ini tidak main-main. Karena dihasilkan dari dorongan semangat ke-Indonesia-an. Dari forum yang walaupun belum menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, semangat ke-Indonesia-an sudah mendominasi.

Lahir para pemikir dan pemikiran yang menjadi dasar keberadaan Indonesia seperti sekarang ini. Dua sumpah ini adalah dua mimpi yang dieksekusi dengan cara yang berbeda. Sumpah Palapa dikumandangkan ketika Mahapatih Gajah Mada memegang jabatan politik. Tentu saja Sumpah Palapa tak lepas dari kerangka niat untuk menjadikan Nusantara Satu dengan ambisi politik yang kental, karena satunya Nusantara dalam rangka menguatkan kekuasaan.

Semangat Sumpah Palapa adalah semangat sentralisasi, bagaimana menjadikan kerajaan Majapahit sebagai sentra kekuasaan di Nusantara. Semangat yang kemudian bisa jadi adalah nama lain dari sentralisasi. Mahapatih Gajah Mada bertekad mempersatukan nusantara dan menjadikan Majapahit sebagai porosnya. Dalam konteks saat ini, semangat sentralisasi justru menjadi bagian yang membuat bangsa ini sulit bersatu.

Ketidakinginan untuk dikuasai, diatur, dikendalikan adalah keinginan yang lumrah dan alamiah dalam konteks membangun kemandirian. Sumpah Pemuda dikerangkai oleh niat untuk menjadikan Indonesia Satu tak dimulai dengan kekuasaan, tapi rasa ke-satu-an yang diliputi cinta, yaitu cinta tanah air, cinta bangsa dan cinta bahasa.

Semangat Sumpah Pemuda adalah semangat konvergen, datang dan bersatu karena dikendalikan oleh keyakinan bahwa keberadaan para pemuda di tanah air yang berbeda, di satu titik menemukan kesamaan, sebagai bangsa yang sama dan berkomunikasi dengan bahasa yang sama, tentu sudah Tuhan takdirkan untuk membawa Indonesia menjadi negara yang harmoni; negara yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Sumpah Pemuda pasti lahir dari kesadaran akan keragaman dan keyakinan dari kekuatan harmoni.

Keragaman yang dikelola dengan baik, diikat dengan sebuah sumpah, akan menghasilkan Indonesia Satu yang berbhineka namun mencapai kejayaan sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemuda selalu menjadi lokomotif sejarah. Sumpah Pemuda adalah kontrol sosial terhadap Sumpah Palapa. Kekuasaan harus senantiasa diliputi oleh semangat Bhineka Tunggal Ika.

Sekali semangat harmoni dalam keragaman itu retak, maka perlu perjuangan kembali untuk merekatkannya. Nah, lepas dari berbagai logika yang agak sulit dipahami, yang patut dicatat adalah bahwa di satu sisi ada yang mengagungkan sepenuhnya Sumpah Palapa sebagai tekad mempersatukan nusantara dengan penuh kedamaian dan persaudaran, di satu sisi ada yang menilainya bukan tekad mempersatukan, melainkan tekad menguasai menjajah.

Karena teks Sumpah Palapa itu sendiri menyatakan: Lamun huwus kalah. Kalau sudah kalah …, sudah takluk. Dan konsep persatuan itu tidak ada dalam wawasan ketatanegaraan Gajah Mada, yang ada hanya konsep penyatuan. Ini otomatis mencakup yang ada di nusa Jawadwipa, yaitu Sunda.

Yang ada di kepalanya mengalahkan menaklukkan nusantara, pulau-pulau yang lain selain Jawa, tempatnya dan Majapahit berada. Mengalahkan, tentu saja tidak sama dengan mempersatukan. Jadi, Sumpah Pemuda itulah sebenar-benarnya benar sebagai suatu tekad semangat persatuan, bukan Sumpah Palapa. Sumpah Palapa adalah tekad dan semangat besar penjajahan!

Termasuk jika benar ada Perang Bubat. Sumpah Palapa intinya adalah mengusahakan kesatuan dan persatuan Nusantara cetak tebal dari Pengutip. Dari Pararaton, Forum ini mengutip, dengan pendahuluan, seperti di bawah ini. Jangan dikira bahwa ketika Sumpah Palapa dicanangkan tidak ada tantangan dari orang-orang sekitarnya.

Perhatikan kalimat berikutnya, seperti dikutib dari teks Serat Pararaton cetak miring dari Pengutip : Sira sang mantri samalungguh ring panangkilan pepek. Sira Kembar apameleh, ring sira Gajah mada, anuli ingumanuman, sira Banyak kang amuluhi milu apameleh, sira Jabung Terewes, sira Lembu Peteng gumuyu.

BRAINTAINMENT MAGAZINE PDF

Gajah Mada: Hamukti Palapa

Hal tersebut membuat saya kian mencintai sejarah karena ternyata ada banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan, terlepas dari pertanyaan apakah mereka fiktif atau beneran ada. Buku ketiganya ini berisi tentang rencana makar wilayah Sadeng dan Keta yang hendak membuat legitimasi negara sendiri dengan mencuri benda pusaka dari Di buku ketiganya kali ini ada banyak sekali tokoh-tokoh lama di awal pendirian Majapahit yang dihadirkan kembali, mereka tak lain adalah orang-orang terdekat Raden Wijaya. Buku ketiganya ini berisi tentang rencana makar wilayah Sadeng dan Keta yang hendak membuat legitimasi negara sendiri dengan mencuri benda pusaka dari perbendaharaan pusaka istana Majapahit. Gajah Mada yang berhasil mengendus rencana mereka, menelanjangi perwakilan mereka dalam pasowanan agung hingga mereka tak bisa berkomentar apa-apa.

ARWANA SUPER RED PDF

Sumpah Palapa

Gunung Kampud meletus. Kekeringan melanda setiap jengkal tanah Majapahit. Pada situasi seperti itulah, ruang perbendaharaan pusaka Majapahit dimasuki orang. Bahkan pada pencurian yang kedua dengan orang yang agaknya berbeda — yang ternyata pencuri kedua ini merasa terkecoh karena Kiai Udan Riwis dan Cihna Nagara sudah tak berada di tempatnya — Ratu Gayatri sempat diculik dari ruang peristirahatannya!

Related Articles