JANGAN DEKATI ZINA PDF

Barangsiapa yang mendekati daerah larangan, ia dikhawatirkan akan terjerumus kepadanya, terlebih lagi dalam masalah zina yang kebanyakan hawa nafsu sangat kuat dorongannya untuk melakukan zina. Maksudnya adalah dosa yang sangat keji ditinjau dari kacamata syariat, akal sehat, dan fitrah manusia yang masih suci. Hal ini dikarenakan perbuatan zina mengandung unsur melampaui batas terhadap hak Allah dan melampaui batas terhadap kehormatan wanita, keluarganya dan suaminya. Dan juga pada perbuatan zina mengandung kerusakan moral, tidak jelasnya nasab keturunan , dan kerusakan-kerusakan yang lainnya yang ditimbulkan oleh perbuatan tersebut. Maka jadilah ia sejelek-jelek jalan yang menyeret pelakunya kedalam neraka Jahannam.

Author:Akitilar Akinolmaran
Country:Honduras
Language:English (Spanish)
Genre:Personal Growth
Published (Last):8 January 2011
Pages:382
PDF File Size:12.13 Mb
ePub File Size:11.13 Mb
ISBN:118-4-74654-411-6
Downloads:65132
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Samudal



Format Copyleft hard—copy tersedia di toko-tUmmu Maktabah o ko buku. Al Furqon, 68 — Barang siapa yang mencari yang dibalik itu, maka mereka itulah orang orang yang melampaui batas. Dalam ayat ayat ini ada tiga hal yang diungkapkan: Pertama : bahwa orang yang tidak menjaga kemaluannya, tidak termasuk orang yang beruntung. Kedua : dia termasuk orang yang tercela. Padahal beratnya beban dalam menahan syahwat itu, lebih ringan ketimbang menanggung sebagian akibat yang disebutkan tadi.

Bila mendapat kebahagiaan dia menjadi kikir, tak mau memberi, dan bila mendapat kesusahan, dia banyak mengeluh. Barang siapa yang mencari dibalik itu maka mereka itulah orang orang yang melampaui batas. Ghafir, Mulanya hanya pandangan, kemudian hayalan, kemudian langkah nyata, kemudian terjadilah musibah yang merupakan kejahatan besar zina. Dan seyogyanya, seorang hamba Allah itu bersedia untuk menjaga dirinya dari empat hal di atas dengan ketat, sebab dari situlah musuh akan datang menyerangnya, merasuk kedalam dirinya dan merusak segalanya.

Sekarang, marilah kita ikuti pembahasan tentang empat pintu tersebut di bawah ini : 1- Al Lahazhat Pandangan pertama. Oleh karenanya, menjaga pandangan merupakan pokok dalam usaha menjaga kemaluan. Maka barang siapa yang melepaskan pandangannya tanpa kendali, niscaya dia akan menjerumuskan dirinya sendiri pada jurang kebinasaan.

Pandangan pertama itu boleh buat kamu, tapi tidak dengan pandangan selanjutnya. At Turmudzi, hadits hasan ghorib. Maka barang siapa yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ihlas karena Allah semata, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai pada hari kiamat. Beliau juga bersabda :. Pandangan adalah asal muasal seluruh musibah yang menimpa manusia. Sebab, pandangan itu akan melahirkan lintasan dalam benak, kemudian lintasan itu akan melahirkan pikiran, dan pikiran itulah yang melahirkan syahwat, dan dari syahwat itu timbullah keinginan, kemudian keinginan itu menjadi kuat, dan berubah menjadi niat yang bulat.

Akhirnya apa yang tadinya melintas dalam pikiran menjadi kenyataan, dan itu pasti akan terjadi selama tidak ada yang menghalanginya. Diantara bahaya pandangan Pandangan yang dilepaskan begitu saja itu akan menimbulkan perasaan gundah, tidak tenang dan hati yang terasa dipanas panasi.

Seseorang bisa saja melihat sesuatu, yang sebenarnya dia tidak mampu untuk melihatnya secara keseluruhan, karena dia tidak sabar untuk melihatnya. Lebih jelasnya, bait syair di atas maksudnya : engkau akan melihat sesuatu yang engkau tidak sabar untuk tidak melihatnya walaupun sedikit, namun saat itu juga engkau tidak mampu untuk melihatnya sama sekali walaupun hanya sedikit. Betapa banyak orang yang melepaskan pandangannya tanpa kendali, akhirnya dia binasa dengan pandangan pandangan itu sendiri.

Suatu hal yang lebih mengherankan, yaitu bahwa pandangan yang dilakukan oleh seseorang itu merupakan anak panah yang tidak pernah mengena pada sasaran yang dipandang, sementara anak panah itu benar benar mengena di hati orang yang memandang.

Suatu hal yang lebih mengherankan lagi, yaitu bahwa satu pandangan padahal yang dilarang itu dapat melukai hati dan dengan pandangan yang baru berarti dia menoreh luka baru di atas luka lama ; namun ternyata derita yang di timbulkan oleh luka luka itu tak mencegahnya untuk kembali terus menerus melukainya.

Di sinilah tempat dimulainya aktifitas, yang baik ataupun yang buruk. Dari sinilah lahirnya keinginan untuk melakukan sesuatu yang akhirnya berubah manjadi tekad yang bulat. Maka barang siapa yang mampu mengendalikan pikiran pikiran yang melintas di benaknya, niscaya dia akan mampu mengendalikan diri dan menundukkan hawa nafsunya.

Dan orang yang tidak bisa mengendalikan pikiran pikirannya, maka hawa nafsunyalah yang berbalik menguasainya. Dan barang siapa yang menganggap remeh pikiran pikiran yang melintas di benaknya, maka tanpa dia inginkan ia akan terseret pada kebinasaan.

An Nur, Orang yang paling jelek cita citanya dan paling hina adalah orang yang merasa puas dengan angan angan kosongnya. Dia pegang angan angan itu untuk dirinya dan dia pun merasa bangga dengan senang dengannya. Padahal demi Allah, angan angan itu adalah modal orang orang yang pailit, dan barang dagangan para pengangguran serta merupakan makanan pokok bagi jiwa yang kosong, yang bisa merasa puas dengan gambaran gambaran dalam hayalan, dan angan angan palsu.

Angan angan adalah sesuatu yang sangat berbahaya bagi manusia. Dia lahir dari sikap ketidakmampuan sekaligus kamalasan, dan melahirkan sikap lalai yang selanjutnya penderitaan dan penyesalan. Orang yang hanya mendapatkan realita yang diinginkannya — sebagai pelampiasannya, maka dia merubah gambaran realita yang dia inginkan kedalam hatinya ; dia akan mendekap dan memeluknya erat erat.

Selanjutnya dia akan merasa puas dengan gambaran gambaran palsu yang dihayalkan oleh pikirannya. Padahal itu semua, sedikitpun tidak akan membawa manfaat, sama seperti orang yang sedang lapar dan haus, membayangkan gambaran makanan dan minuman, namun dia tidak dapat memakan dan meminumnya. Pikirang yang orientasinya untuk mencari kemaslahatan akhirat.

Pikiran yang orientasinya untuk mencegah kerugian akhirat. Idealnya, seorang hamba hendaklah menjadikan pikiran pikiran, ide ide dan keinginannya hanya berkisar pada empat macam di atas.

Bila kesemua bagian itu ada padanya, maka selagi mungkin dipadukan, hendaklah dia tidak mengabaikannya untuk yang lain. Yang tersisa sekarang adalah dua bagian lagi, yaitu : Pertama : yang penting dan tidak dikhawatirkan kehilangan kesempatan untuk melakukannya.

Kedua : yang tidak penting, namun dihawatirkan kehilangan kesempatan untuk melakukannya. Dua bagian terahir ini sama sama mempunyai alasan untuk didahulukan.

Di sinilah lahir sikap ragu ragu dan bingung untuk memilih. Bila dia dahulukan yang penting, dia hawatir akan kehilangan kesempatan yang lain. Dan bila dia mendahulukan yang lain, dia akan kehilangan sesuatu yang penting.

Begitulah kadang kadang seseorang dihadapkan pada dua pilihan yang tidak mungkin dikumpulkan menjadi satu, yang mana salah satunya tidak dapat dicapai kecuali dengan mengorbankan yang lain. Di sinilah akal, nalar dan pengetahuan itu berperan.

Di sini akan diketahui siapa orang yang tinggi, siapa orang yang sukses, dan siapa orang yang merugi. Dan anda tidak akan mendapatkan seorangpun yang selamat dan terlepas dari hal seperti itu. Hanya saja ada yang jarang dan ada pula yang sering menghadapinya. Kaidah itu adalah mendahulukan kemaslahatan yang lebih besar dan lebih tinggi dalam dua pilihan yang ada — walaupun harus mengorbankan kemaslahatan yang lebih kecil — kemudian kaidah itu pula yang menyatakan bahwa kita memilih kemudlaratan yang lebih ringan untuk mencegah terjadinya mudlarat yang lebih besar.

Jadi, sebuah kemaslahatan akan dikorbankan dengan tujuan mendapatkan kemaslahatan yang lebih besar, begitu pula sebuah kemadlaratan akan dilakukan dengan tujuan mencegah terjadinya kemudlaratan yang lebih besar. Pikiran pikiran serta ide ide orang yang berakal itu tidak akan keluar dari apa yang kita jelaskan di atas.

Dan karena itu datang berbagai syariat atau aturan. Kemaslahatan dunia dan akhirat selalu didasarkan pada hal hal tersebut. Kemudian pikiran yang orientasinya adalah untuk Allah ini bermacam macam : Pertama : memikirkan ayat ayat Allah yang telah diturunkan dan berusaha untuk memahami maksud Allah dari ayat ayat tersebut; dan memang untuk itulah Allah menurunkannya ; tidak hanya sekedar untuk dibaca saja, namun membaca itu hanya media saja.

Dan Allah sendiri telah mendorong hamba-hambaNya untuk merenungkan tanda tanda kebesaranNya, memikirkan dan memahaminya ; Allah menegur dan mencela orang yang melalaikannya. Keempat : memikirkan aib, cela dan kelemahan yang ada pada jiwa dan amal perbuatan. Bila nafsu yang jahat itu dapat dikalahkan maka nafsu muthmainnah jiwa yang tenang lah yang akan hidup, bangkit dan menjadi penentu segala keputusan. Lalu hatipun menjadi hidup dan kebijakan yang ada pada kerajaannyapun didengar, dia perintah para karyawan dan bala tentaranya untuk melakukan hal yang membawa kemaslahatanya.

Kelima : memikirkan kewajiban terhadap waktu sekaligus bagaimana cara menggunakannya, serta menumpahkan seluruh perhatian terhadap pemanfaatan waktu. Seorang yang arif, akan selalu memanfaatkan waktunya, karena dia yakin, bila waktunya disia siakan begitu saja, berarti dia telah menyia nyiakan seluruh kemaslahatan yang seharusnya dia dapatkan.

Dan bila disia siakan dan waktu itu sudah lewat. Pent maka dia tidak akan bisa mengembalikannya lagi untuk selamanya. Waktu itulah yang menjadi modal untuk kehidupannya yang abadi dalam kenikmatan abadi sorga , sekaligus juga modal untuk kehidupan yang sengsara dalam azab yang pedih neraka. Waktu berlalu lebih cepat dari perjalanan gumpalan awan. Dan waktu yang tidak dipersembahkan untuk Allah tidaklah dihitung sebagai bagian dari kehidupannya, walaupun dia hidup tapi kehidupannya laksana kehidupan binatang ternak.

Bila seorang hamba — yang sedang melakukan shalat — tidak akan mendapatkan nilai dari shalatnya selain pada bagian yang dia fahami dari shalatnya, maka umurnya yang sesungguhnya adalah waktu yang dia habiskan untuk Allah dan bersama Allah. Pikiran pikiran atau ide ide yang tidak termasuk salah satu bagian yang disebut di atas tadi, dapat kita katagorikan sebagai was was syaithoniyah bisikan syetan , angan angan kosong atau halusinasi bohong, persis seperti pikiran pikiran orang yang kurang waras akannya, baik karena mabuk atau fly dan lain sebagainya.

Ketahuilah, sebenarnya pikiran pikiran yang melintas itu tidaklah membahayakan, namun yang bahaya bila pikiran pikiran itu sengaja didatangkan dan terjadi interaksi dengannya.

Pikiran yang melintas itu laksana orang yang disuatu jalan, bila anda tidak memanggilnya dan anda biarkan dia, maka dia akan berlalu meninggalkan anda. Namun bila anda memanggilnya, anda akan terpesona dengan percakapan, dusta dan tipuannya. Tindakan ini akan terasa begitu ringan bagi jiwa yang kosong penuh kebatilan, dan begitu berat dirasa oleh hati dan jiwa yang suci dan tenang. Segala sesuatu yang terasa ringan oleh yang satu, maka akan terasa berat oleh yang lain. Tak ada sesutau yang lebih berat bagi nafsu ammarah melebihi perbuatan yang dilakukan karena Allah dan mendahulukan keridhaaNya dari pada hawa nafsunya, padahal tidak ada amal yang lebih bermanfaat baginya dari amal tersebut.

Begitu pula, tidak ada sesuatu yang lebih berat bagi nafsu muthmainnah dari perbuatan yang bukan untuk Allah dan mengikuti kemauan hawa nafsu. Padahal tidak ada amal yang lebih berbahaya baginya dari amal tersebut. Dalam hal ini, malaikat itu berada disamping kanan hati manusia, sementara syetan disamping kirinya. Dan pertarungan antara keduanya tidak akan pernah berhenti sampai ajal ditentukan oleh Allah di dunia ini.

Seluruh bentuk kebatilan akan berpihak kepada syetan dan nafsu ammarah, sementara semua macam kebenaran itu akan berpihak pada malaikat dan nafsu muthmainnah. Dalam peperangan itu kalah dan menang datang silih berganti. Dan kemenangan itu ada bersama kesabaran. Maka barang siapa yang benar benar bersabar, berusaha keras dan bertakwa kepada Allah, niscaya baginya balasan yang baik, di dunia dan di akhirat nanti. Hati itu laksana papan yang kosong, dan pikiran pikiran itu bagaikan tulisan yang diukir di atasnya.

Maka, bagaimana bisa dikatakan pantas bagi sesorang yang berakal bila papannya hanya berisi dusta, tipu daya, angan angan dan fatamorgana yang tidak ada realitanya? Mereka itu menjaga diri mereka dari satu hal, tetapi mereka lalai dan kehilangan banyak hal yang lain, sebab mereka kosongkan hati mereka dari lintasan lintasan pikiran sehingga menjadi kosong, tidak ada apa apa di dalamnya, tiba tiba syetan mendapatkannya dalam keadaan kosong, kemudian syetan menanamkan di dalamnya kebatilan dan menggambarkannya sebagai sesuatu yang paling tinggi dan paling mulia, syetan meletakkan hal itu sebagai ganti dari jenis pikiran pikiran yang merupakan bahan dasar dari ilmu pengetahuan dan petunjuk.

Apabila hati itu sudah kosong dari berbagai macam pikiran, maka syetan akan datang dengan menemukan tempat yang kosong untuknya. Syetan akan berusaha untuk mengisinya dengan hal hal sesuai dengan kondisi pemilik hati tersebut. Dalam hal ini, syetan akan berusaha menyesatkan orang yang mempunyai keinginan demikian dengan mengajak untuk meninggalkan keinginan baik tersebut dan melepaskannya, tidak usah memikirkan dunia dan masyarakat di dalamnya.

Syetan akan membisikkan kepada mereka bahwa kesempurnaan itu dapat mereka capai dengan cara melepaskan diri dan mengosongkan hati dari hal itu semua. Sungguh amat jauh ungkapan tersebut dari kebenenaran, karena kesempurnaan itu hanya dapat diperoleh bila hati itu penuh terisi dengan keinginan dan pikiran yang baik, serta usaha untuk merealisasikannya.

Maka, manusia yang paling sempurna adalah mereka yang paling banyak memiliki pikiran dan keinginan untuk tunduk kepada perintah Allah, mencari keridloanNya. Sebagaimana manusia yang paling hina adalah mereka yang paling banyak memiliki keinginan dan pikiran untuk memenuhi hawa nafsunya dimana saja dia berada.

DESCARGAR EL PADRINO MARIO PUZO PDF

AWAS! JANGAN DEKATI ZINA!

Format Copyleft hard—copy tersedia di toko-tUmmu Maktabah o ko buku. Al Furqon, 68 — Barang siapa yang mencari yang dibalik itu, maka mereka itulah orang orang yang melampaui batas. Dalam ayat ayat ini ada tiga hal yang diungkapkan: Pertama : bahwa orang yang tidak menjaga kemaluannya, tidak termasuk orang yang beruntung. Kedua : dia termasuk orang yang tercela.

BAS16LT1G DATASHEET PDF

Jangan Dekati Zina!

.

ASTM A201 PDF

.

Related Articles